Minggu, 13 Mei 2012
Berjalan melembutkan sukma jiwa
Aku merangkak dan berlari
Menjauh dari Prahara
Kekejaman dan pengampunan sesaat
Mematahkan sayap ku
Menjadikan aku hilang keseimbangan
Dan aku ketakutan bagai pengecut
Berdiam dalam kehieningan alam
Berjalan mengikuti air sungai yang mengalir
Menderu sejuk
Mendinginkan dan melembutkan sukma jiwa ku
Jiwa yang tdk pernah bertemu
Kata kata sudah tidak memiliki kekuatan untuk menghibur ku
Namun aku mendengar gema fikiran mereka
Dan ketika kebenaran menunjukan diri nya pada ku
Aku mendapati diri ku terpenjara oleh keharusan
Aku tidak mampu memberikan cinta ku
Sebagai imbalan atas ke darmawanan mu yang tidak setia
Jiwa kita tidak pernah bertemu
berjalan dengan arah yg berbeda
Alam Dewata
Bersahabatlah dengan ku alam
Hentikan sejenak rintik hujan mu
Sudah terbasuhi alam dewata oleh rinai hujan malam
Ijinkan Mentari bersinar
Gemerisik sungai kecil menyerukan rahasia alam
Burung burung merentangkan sayapnya
terbang bebas mengarungi keabadian alam raya milik mereka
Disini aku siap melangkah bebas dalam norma hukum agama
Berpayung ranting ranting terayun ayun gemulai
Melengkung merimbun
Kemilau cahaya matahari merekah
Menembus dedaunan mengiring langkah ku
Segeralah
Kebahagian penuh cinta
Segeralah meluncur kepada ku
Selicin minyak zaitun narwastu
Membasuh jiwa yang sudah meranggas
Kerontang bagai ranting yang siap melayu
Menunggu datangnya air membasuh pupus kering
Ruang ku
Tertata apik merenda,wangi
Menyambut mu bahagia
Dengan rasa keabadian cinta yang tumbuh bersemi
Pelangi ku
Tidur terlelap dalam hening ku
Membuka mata menatap indahnya semesta
Berselimut rinai hujan pagi
Yang mulai mereda
Sinar fajar yang lembut malu malu
Hampir tiba merayap dalam ruang ku
Menghangkan jiwa ini
Menggerakan raga utk melangkah menginjak bumi
Menatap indahnya cakrawala
Berbingkai pelangi penuh warna megah
Menghiasi langit ku
Di pertapaan yang hening
Ini adakah pertanda Baik dari Sang Maha Penguasa semesta
Hanya Engkau Tuhan ku yang aku perlu
Menuntun langkahku
Menuju rencana indah Mu atas ku
Berlabuhlah
Aku berdiri di bukit pengharapan
Menatap samudra luas
Menanti kapalmu berlabuh di labirin hati ku
Buih buih rindu mu bergulung gulung
Mendorong laju cepatnya kapal mu
Berpandar untuk kita bertemu merangkul
Masihkah ...
Aku terperanjat atas waktu yang sudah berlalu
Dalam jiwa yang diam
Seribu tanya tak terjawab
Masih pantaskah aku berharap
Sudah lama waktu memisahkan kita
Masihkah bahasa kalbu kita bermakna sama
Masihkah pengertian dan kepahaman itu dalam satu warna yang sama Putih
Dalam jiwa dan kalbu yang saling merangkul mesra
Langganan:
Postingan (Atom)